Duka Keluarga KD dan Potret Kelam Main Hakim Sendiri di Baturiti


TNC GROUP SIBER.WEB.ID || BATURITI, TABAN - Jumat dini hari, 24 Juli 2026, seharusnya menjadi hari biasa bagi keluarga KD di Desa Sidetapa, Buleleng. Tapi hari itu mengubah segalanya. 

KD, seorang ayah dari tiga anak, ditemukan tak bernyawa setelah diduga menjadi korban pengeroyokan massa di wilayah Baturiti, Tabanan. Peristiwa itu bukan hanya merenggut nyawa seorang kepala keluarga, tapi juga meninggalkan luka panjang bagi orang-orang yang ditinggalkannya.

Tiga Hari Penantian yang Berujung Kabar Pahit,
Putu Dewi Suryantini, 35 tahun, istri KD, sudah tiga hari tidak melihat suaminya pulang ke rumah. Dalam keterbatasan, Dewi memilih berpikir positif. 

"Dia sudah tiga hari tidak pulang. Saya hanya berpikir mungkin sedang mencari uang untuk biaya sekolah anak," ucap Dewi dalam cuplikan video yang beredar Senin, 27 Juli 2026.

"Beban ekonomi keluarga memang berat. Ada tunggakan biaya sekolah anak sebesar Rp2,7 juta yang harus dilunasi. Bagi KD, itu tanggung jawab. Ia pergi untuk ikhtiar. Tapi ikhtiar itu tak pernah kembali.

Keluarga baru mendapat kepastian setelah ada laporan dari Kepala Dusun dan Perbekel Desa Sidetapa. Made Parta, 58 tahun, sepupu korban, yang kemudian mendatangi Polsek Baturiti dan rumah sakit untuk memastikan.

Yang ia lihat membuat dada sesak. Jenazah KD dalam kondisi luka parah di bagian kepala, luka di punggung, dan diduga mengalami patah kaki. Sepeda motor milik korban, satu-satunya alat untuk mencari nafkah, juga ditemukan hangus terbakar.


Mererespons kejadian ini, Polres Tabanan bergerak cepat. Hingga kini, lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus pengeroyokan tersebut. 


"Keluarga korban kini hanya punya satu permintaan: proses hukum yang transparan dan adil. Mereka ingin kepastian bahwa kematian KD tidak sia-sia, dan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu.


"Yang paling terdampak adalah tiga anak KD. Mereka kehilangan ayah, sekaligus kehilangan harapan untuk biaya pendidikan yang selama ini dipikul sang ayah seorang.


"Melihat kondisi itu, Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, berkoordinasi dengan Pemkab Buleleng. Bentuknya pendampingan psikososial dan bantuan pendidikan. Salah satu opsi yang diwacanakan adalah memasukkan anak-anak KD ke dalam program Sekolah Rakyat, agar mereka tetap bisa melanjutkan sekolah tanpa terbebani biaya.
Kami tidak ingin anak-anak ini putus sekolah karena musibah yang menimpa orang tuanya," ujar I Made Sutama.

"Tragedi ini kembali menyorot persoalan lama di masyarakat main hakim sendiri. 
Di saat emosi dan prasangka menguasai, hukum formal sering diabaikan. Akibatnya bukan keadilan yang ditegakkan, tapi korban baru yang berjatuhan. Dalam kasus KD, seorang ayah yang sedang berjuang untuk anaknya harus kehilangan nyawa dengan cara yang sangat tidak manusiawi.

" yang digaungkan keluarga dan warga adalah pengingat. Bahwa menyelesaikan masalah dengan kekerasan hanya akan melahirkan duka yang lebih besar.

Kini, Sidetapa berkabung. Baturiti jadi saksi. Dan di rumah sederhana di Buleleng, ada tiga anak yang harus tumbuh tanpa ayah, dan seorang ibu yang harus menguatkan diri di tengah impitan ekonomi dan kehilangan.

Semoga proses hukum berjalan terang. Semoga bantuan pendidikan sampai. Dan semoga tidak ada lagi keluarga lain yang harus merasakan duka seperti keluarga KD.


Redaksi /suhaimi

0 Komentar