Betawi Terancam Jadi Simbol, Bukan Jiwa Jakarta



TNC GROUP SIBER.WEB.ID | Jakarta - Identitas budaya Betawi dinilai semakin sering ditampilkan di ruang publik, namun kian jarang dihidupkan sebagai nilai yang membentuk kehidupan masyarakat. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran bahwa Betawi berisiko bergeser dari subjek peradaban menjadi sekadar simbol dekoratif.

Di berbagai sudut Jakarta, elemen budaya seperti ondel-ondel, kerak telor, hingga ornamen khas Betawi masih mudah ditemui, terutama dalam acara seremonial. Namun, kehadiran tersebut dinilai lebih bersifat visual ketimbang substansial.

Pengamat kebudayaan, Ismail, yang kini tinggal di Tokyo, Jepang menilai kondisi ini sebagai bentuk “folklorisasi”, yakni penyederhanaan budaya menjadi simbol yang estetis dan konsumtif tanpa diiringi pemahaman nilai yang mendalam.

“Betawi semakin sering ditampilkan, tetapi semakin jarang dihidupkan. Ia hadir sebagai simbol, tetapi absen sebagai makna dan jiwa peradaban,” ujar putra Betawi Rawa Belong yang ahli dibidang reaktor nuklir.

Menurut ilmuwan yang meraih gelar S3 Doctor of Engineering (Dr. Eng) dari Tokyo Institute of Technology ini, pendekatan terhadap budaya Betawi saat ini cenderung menempatkannya sebagai produk yang bisa dipertontonkan, bukan sebagai proses yang membentuk cara berpikir dan bertindak masyarakat.

Akibatnya, generasi muda hanya memiliki kedekatan visual terhadap identitas Betawi, tanpa memiliki keterikatan nilai yang kuat. Kondisi ini diperparah oleh kebijakan yang lebih menitikberatkan pada kegiatan seremonial dibandingkan internalisasi budaya dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal secara historis, Betawi dikenal sebagai entitas budaya yang lahir dari percampuran berbagai etnis, agama, dan tradisi. Karakter ini membentuk watak kosmopolitan yang inklusif dan terbuka, yang dinilai relevan untuk menjawab tantangan sosial di Jakarta saat ini.

“Nilai inklusivitas Betawi seharusnya menjadi fondasi sosial di tengah meningkatnya fragmentasi dan eksklusivitas akibat urbanisasi,” kata Ismail.

Selain inklusivitas, nilai keterbukaan sosial dan kehidupan kampung yang egaliter juga dinilai sebagai alternatif atas kondisi kota yang semakin tersegregasi secara ekonomi dan spasial.

Namun di sisi lain, masyarakat Betawi justru menghadapi tekanan besar akibat urbanisasi dan pembangunan kota. Banyak komunitas Betawi yang terdorong keluar dari wilayah historisnya karena lonjakan harga tanah dan ekspansi pembangunan.

Hal ini tidak hanya menggerus ruang fisik, tetapi juga ekosistem budaya tempat nilai-nilai Betawi tumbuh dan diwariskan secara alami.

“Kampung Betawi kini banyak yang berubah menjadi kawasan komersial atau sekadar destinasi wisata yang kehilangan dinamika kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut berdampak pada generasi muda Betawi yang menghadapi dilema antara beradaptasi dengan kehidupan kota modern dan mempertahankan identitas budaya mereka.

Untuk itu, Ismail menekankan pentingnya reposisi Betawi sebagai subjek peradaban, bukan sekadar objek budaya.

Langkah yang perlu dilakukan antara lain reorientasi kebijakan budaya dari sekadar festival menuju integrasi nilai dalam tata kelola kota. Selain itu, revitalisasi kampung Betawi harus diarahkan sebagai ekosistem budaya hidup, bukan hanya objek wisata.

Pemberdayaan generasi muda juga menjadi kunci, dengan mendorong mereka untuk menafsirkan ulang budaya Betawi melalui medium kekinian seperti musik, film, hingga konten digital.

“Jakarta tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga fondasi nilai yang mampu menjaga kohesi sosial. Betawi menawarkan lebih dari sekadar warisan, tetapi arah,” tegasnya.

Ia menambahkan, masa depan Jakarta sangat bergantung pada keberanian menjadikan Betawi sebagai fondasi peradaban kota, bukan sekadar ornamen budaya.

Jika tidak, Jakarta dikhawatirkan akan terus berkembang secara fisik, namun kehilangan jati diri sebagai kota yang berakar pada nilai dan identitasnya.

Sumber : Muhammad

Pewarta : Mawi

0 Komentar