TNC GROUP SIBER.WEB.ID || OKU TIMUR SUMSEL, Di jalur perbatasan Lampung - Sumatera Selatan, pemandangan yang sama terus berulang. Deru kendaraan roda dua melintas tanpa helm, tanpa spion, plat nomor pun tak terlihat. Sebagian lagi bahkan tidak bisa menunjukkan STNK maupun Surat Izin Mengemudi saat diberhentikan petugas.11/7/2026
"Kondisi ini membuat Satlantas Polres OKU Timur berpikir ulang soal strategi penindakan. Jika tilang terus dilakukan tapi pelanggaran tetap terjadi, berarti ada yang kurang. Efek jera ternyata belum cukup untuk mengubah perilaku pengendara.
"Masih banyak kita temukan pelanggar, khususnya roda dua. Kelengkapannya minim sekali. Helm tidak dipakai, spion dilepas, plat nomor tidak ada. Bahkan surat-surat kendaraan juga tidak dibawa," ujar salah satu personel Satlantas yang bertugas di lapangan,
Alih-alih langsung mengeluarkan surat tilang, Satlantas OKU Timur saat ini lebih banyak turun dengan pendekatan berbeda. Petugas memberhentikan pelanggar, lalu mengajak berdialog. Teguran disampaikan, edukasi diberikan, dan pesan keselamatan disampaikan dengan bahasa yang bersahabat.
"Tugas kami bukan hanya menilang. Kami ingin masyarakat paham kenapa aturan ini dibuat. Helm itu untuk melindungi kepala, spion untuk keselamatan, surat-surat untuk tertib administrasi," lanjutnya.
Hukuman yang diberikan pun masih tergolong ringan hanya teguran lisan dan catatan. Harapannya, rasa malu dan kesadaran yang muncul setelah ditegur bisa lebih kuat daripada rasa takut pada denda.
Pendekatan humanis ini sengaja dilakukan Satlantas OKU Timur sebagai upaya jangka panjang. Polisi tidak ingin masyarakat menganggap aturan lalu lintas hanya sebagai beban. Justru, aturan itu hadir untuk melindungi nyawa mereka sendiri.
"Kami laksanakan tugas rutin dengan cara humanis. Tujuannya satu, supaya masyarakat sadar. Kalau sudah sadar, tidak perlu lagi ditilang," tegasnya.
"Meski begitu, Satlantas tidak menutup kemungkinan akan kembali ke penindakan tegas jika edukasi berulang kali diabaikan. Untuk sekarang, fokusnya adalah membangun budaya tertib berlalulintas.
"Warga yang melintas di jalur perbatasan pun mengaku merasakan perbedaannya. Teguran yang disampaikan tidak membuat takut, tapi justru membuat berpikir dua kali sebelum mengulangi pelanggaran.
"Satlantas OKU Timur berharap, dengan cara ini angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di wilayah hukum OKU Timur bisa ditekan. Karena keselamatan di jalan, katanya, dimulai dari kesadaran masing-masing pengendara.
"Sudut Pandang Masyarakat
Banyak pengendara mengaku kaget saat pertama kali hanya ditegur. "Biasanya langsung tilang Pak. Ini malah dinasehati. Jadi malu sendiri," kata salah satu pengendara motor yang terjaring tidak pakai helm.
"Menurut catatan Satlantas, pelanggaran terbanyak masih didominasi pengendara usia produktif. Faktor utamanya dianggap sepele dan jarak tempuh yang dekat.
Kesadaran tidak bisa dipaksa dengan denda. Kadang, satu kalimat nasihat di pinggir jalan lebih mengena daripada selembar surat tilang.
Red/suhaimi
0 Komentar