81 Tahun Indonesia Merdeka, Petani di Sumba Barat Daya Masih Mencangkul dengan Garpu: Di Mana Modernisasi Pertanian Berhenti?

 


TNC GROUP SIBER WEB. ID|Sumba Barat Daya, 4 Agustus 2026 – Ketika pemerintah pusat terus menggencarkan program swasembada pangan dan modernisasi pertanian, potret berbeda justru terlihat di Desa Kalembu Kanaika, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.


Di tengah berbagai program bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang selama ini digaungkan pemerintah, sejumlah petani di desa tersebut masih mengolah lahan menggunakan alat tradisional berupa garpu. Pemandangan itu seolah membawa pertanian kembali puluhan tahun ke belakang.


Ironisnya, kondisi tersebut terjadi ketika Indonesia memasuki usia 81 tahun kemerdekaan.


Ketua DPD Tani Merdeka Indonesia (TMI) Kabupaten Sumba Barat Daya yang turun langsung ke lokasi mengaku menerima berbagai keluhan dari para petani. Mereka mengaku telah berkali-kali mengajukan proposal bantuan alsintan, namun hingga kini belum memperoleh realisasi.


"Kami sudah beberapa kali mengajukan proposal. Sampai sekarang belum ada bantuan yang kami terima," ungkap salah seorang petani saat berdialog dengan Ketua DPD TMI Sumba Barat Daya.


Keluhan lainnya juga mengemuka. Sejumlah petani mengatakan mereka pernah diarahkan untuk membentuk kelompok tani dengan harapan mempermudah akses terhadap berbagai program pemerintah. Namun menurut mereka, setelah kelompok tani terbentuk, bantuan yang dijanjikan belum juga terealisasi.


Bagi petani kecil, menyewa hand tractor sebenarnya menjadi pilihan. Akan tetapi, biaya sewa yang dinilai cukup tinggi membuat banyak petani tidak mampu menjangkaunya. Akibatnya, mereka kembali menggunakan tenaga manusia untuk mengolah lahan.


Dampaknya bukan sekadar pekerjaan menjadi lebih berat. Pengolahan lahan membutuhkan waktu lebih lama, musim tanam berpotensi terlambat, biaya produksi meningkat, dan hasil panen pun tidak dapat mencapai potensi maksimal.


Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang layak menjadi perhatian bersama: mengapa di tengah gencarnya program modernisasi pertanian masih ada petani yang belum dapat mengakses alsintan? Apakah kendalanya berada pada proses pendataan, pengusulan, prioritas penerima, keterbatasan anggaran, atau faktor lainnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan penjelasan dari pihak-pihak terkait agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh.


DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Sumba Barat Daya meminta pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat untuk memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Organisasi ini berharap usulan bantuan alsintan yang diajukan melalui mekanisme Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan diinput ke sistem e-Banper dapat diproses sesuai ketentuan sehingga petani yang memenuhi persyaratan dapat memperoleh akses bantuan.


Para petani di Kalembu Kanaika tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap memperoleh kesempatan yang sama untuk menikmati kemajuan teknologi pertanian sebagaimana dirasakan petani di daerah lain.


Sebab, selama masih ada petani yang terpaksa mengolah sawah dengan garpu karena tidak mampu mengakses alsintan, maka cita-cita mewujudkan pertanian modern dan swasembada pangan belum sepenuhnya dirasakan hingga ke tingkat akar rumput.


Kemerdekaan seharusnya bukan hanya tentang usia sebuah bangsa, tetapi juga tentang hadirnya keadilan pembangunan bagi seluruh rakyat, termasuk petani yang setiap hari bekerja keras menyediakan pangan bagi Indonesia.


Redaksi; Kristin

0 Komentar