BANDARA TUTUP : YANG PANIK BUKAN CUMA PENUMPANG

 

Oleh : Capt.H.Moh.Anton Hermawan Eka Putra

Praktisi dan pemerhati Transportasi publik.



Ketika gunung berapi batuk, maskapai ikut demam.


Ada satu kalimat yang paling cepat membuat ruang operasi maskapai mendadak sunyi:


“Airport closed.”


Bukan karena runway rusak.


Bukan karena pesawat mogok.


Bukan pula karena pilot lupa membawa SIM.


Tetapi karena alam sedang mengingatkan manusia bahwa sehebat apa pun teknologi penerbangan, tetap ada yang lebih berkuasa:



gunung berapi.


Pukul 02.30 dini hari.


Saat sebagian orang masih bergulat dengan bantal, ruang operasi maskapai justru sudah seperti ruang ICU.


Telepon berbunyi.


Radio komunikasi aktif.


Komputer menyala.


Layar operasi penuh tanda peringatan.



Dan beberapa orang mulai menatap kosong ke monitor, seolah sedang bertanya dalam hati:


“Kenapa saya tidak memilih pekerjaan yang kantornya buka jam 9 pagi?”


Masalahnya bermula dari abu vulkanik.


Abu masuk ke ruang udara.


Kemudian muncul sebuah kata yang bagi orang awam mungkin terdengar seperti istilah administrasi biasa.


NOTAM.


Bagi orang penerbangan, NOTAM tertentu bisa berarti:


“Selamat bekerja lebih keras malam ini.”


Bandara ditutup.


Seketika, rencana penerbangan yang sudah disusun berhari-hari bisa berubah menjadi teka-teki.


Pesawat yang harusnya berada di Jakarta masih berada di kota lain.


Kru yang harusnya istirahat di Jakarta malah terdampar di Surabaya.


Penumpang yang harusnya menikmati kopi di lounge malah duduk di atas koper.


Dan scheduler?


Mereka mulai menghitung.


Lagi.


Dan lagi.


Pesawat mana?


Kru mana?


Siapa yang masih legal untuk terbang?


Siapa yang sudah mencapai flight duty time?


Siapa yang harus diganti?


Pesawat cadangan ada?


Kalau ada, di mana?


Kalau tidak ada?


Nah…


mulailah rapat yang biasanya tidak pernah masuk agenda.


Karena pesawat memang bukan ojek online.


Tidak bisa buka aplikasi:


“Pesan satu A320, pickup Jakarta, tujuan Denpasar.”


Apalagi kru.


Pilot dan awak kabin punya batas waktu kerja dan kewajiban istirahat.


Kalau waktunya sudah habis, selesai.


Tidak bisa dibujuk dengan kalimat:


“Captain, tinggal satu sektor lagi.”


Keselamatan penerbangan tidak mengenal istilah:


“Ya sudah, tanggung.”


Sementara itu, drama di terminal mulai memasuki babak kedua.


Penumpang mulai melihat layar informasi.


Delayed.


Delayed.


Delayed.


Kemudian…


Cancelled.


Yang tadinya wajahnya ceria karena hendak liburan, berubah menjadi wajah orang yang sedang menghitung:


“Kalau tiket saya refund, hotel bagaimana?”


Ada yang menelepon keluarga.


Ada yang mencari penerbangan alternatif.


Ada yang mulai membuka aplikasi booking hotel.


Dan ada pula yang memilih strategi paling klasik:


duduk, diam, dan berharap semuanya selesai sendiri.


Sayangnya, penerbangan tidak bekerja seperti itu.


Di balik layar, ada ratusan orang yang justru sedang bekerja agar satu penerbangan bisa kembali berjalan.


Pilot.


Pramugari.


Dispatcher.


Scheduler.


Ground handling.


Teknisi.


Petugas bandara.


ATC.


Semua bergerak.


Dan kadang-kadang, mereka bergerak tanpa pernah diketahui penumpang.


Bayangkan seorang kapten yang baru saja terbang berjam-jam dari luar negeri.


Di kepalanya sudah ada satu bayangan:


Rumah.


Mandi.


Makan.


Tidur.


Kemudian datang kabar:


“Captain, Jakarta closed. Divert to Surabaya.”


Maka rencana mandi di rumah berubah menjadi:


mencari hotel.


Rencana makan bersama keluarga berubah menjadi:


mencari makanan di kota lain.


Dan rencana tidur di tempat tidur sendiri berubah menjadi:


tidur di kamar hotel yang bahkan namanya baru diketahui beberapa menit sebelumnya.


Itulah dunia penerbangan.


Kadang seorang pilot berangkat sebagai pilot…


dan pulang sebagai wisatawan tidak resmi.


Pramugari pun punya tantangan sendiri.


Bukan hanya mencari hotel.


Bukan hanya mencari makan.


Tetapi juga mencari sesuatu yang sangat penting di era digital:


charger.


Sebab baterai HP 2 persen ketika sedang mencari informasi penerbangan bisa terasa lebih menegangkan daripada turbulence.


Lalu…


bandara dibuka.


Semua lega?


Belum tentu.


Karena ketika pintu kembali dibuka, seluruh pesawat yang sebelumnya tertahan mulai ingin bergerak bersamaan.


Yang sudah menunggu sejak pagi ingin berangkat.


Yang tertahan di udara ingin mendarat.


Yang dialihkan ingin kembali.


Yang jadwalnya berubah ingin mengejar jadwal baru.


Semua merasa:


“Saya duluan.”


Masalahnya, ATC tidak bisa menjawab:


“Silakan, yang paling ngotot dulu.”


Semua harus diatur.


Satu per satu.


Dengan separation yang aman.


Dengan kapasitas runway yang tersedia.


Dengan kondisi ruang udara.


Dengan slot.


Dengan prosedur.


Dan tentu saja dengan kepala tetap dingin.


Karena di dunia penerbangan, kesalahan kecil bukan bahan candaan.


Tidak ada tombol:


UNDO.


Radar pun bisa berubah seperti jalan tol Jakarta saat musim mudik.


Bedanya, kalau macet di jalan, kita masih bisa mengumpat kepada kendaraan di depan.


Di udara?


Tidak ada tempat untuk berhenti di bahu jalan.


Maka satu per satu pesawat harus diatur agar kembali masuk ke dalam jaringan penerbangan.


Dan di sinilah terlihat betapa kompleksnya sebuah penerbangan.


Penumpang hanya melihat pesawat.


Tetapi di belakangnya ada sistem yang sangat panjang.


Ada jadwal.


Ada kru.


Ada pesawat berikutnya.


Ada bandara berikutnya.


Ada bahan bakar.


Ada maintenance.


Ada ground handling.


Ada bagasi.


Ada ATC.


Ada slot.


Ada hotel.


Dan ada manusia yang bekerja sepanjang malam agar semuanya kembali normal.


Satu bandara tutup.


Efeknya bisa menjalar ke mana-mana.


Bukan karena maskapai tidak punya rencana.


Justru karena penerbangan memiliki terlalu banyak rencana yang semuanya saling terhubung.


Begitu satu bagian berhenti, seluruh sistem harus mencari keseimbangan baru.


Dan akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang mungkin terdengar sederhana.


Manusia memang hebat.


Kita bisa membuat pesawat terbang ribuan kilometer.


Kita bisa menghitung cuaca.


Membaca radar.


Menggunakan satelit.


Mengembangkan artificial intelligence.


Menyusun jadwal penerbangan sampai hitungan menit.


Tetapi ada satu hal yang belum bisa kita perintah dengan spreadsheet:


alam.


Ketika gunung berapi batuk…


scheduler lembur.


ATC menghitung ulang.


Pilot mencari hotel.


Pramugari mencari charger.


Penumpang mencari kepastian.


Dan pesawat?


Menunggu.


Karena dalam penerbangan, ada satu prinsip yang tidak boleh dikalahkan oleh jadwal, target, komersial, ataupun kemarahan penumpang:


SAFETY FIRST.


Pesawat boleh terlambat.


Jadwal boleh berantakan.


Rencana boleh berubah.


Tetapi keselamatan tidak boleh menjadi korban.


Sebab pada akhirnya…


lebih baik terlambat sampai tujuan, daripada cepat sampai ke masalah.


Dan mungkin itulah pelajaran paling mahal dari sebuah bandara yang tiba-tiba tutup:


Manusia boleh membuat jadwal.

Manusia boleh membuat rencana.

Tetapi alam tetap memegang kalendernya sendiri

0 Komentar